
Hasbunallah Haris is an Indonesian writer and literary researcher. His focus on history began with a philological study in Sungai Pagu, which he later transformed into a historical fiction novel. By combining research and storytelling, he seeks to preserve ancient manuscripts, often buried or regarded as sacred by local communities, while emphasizing the importance of cultural preservation for shaping the future. He graduated with a degree in Arabic Literature from the State Islamic University Imam Bonjol Padang and is now pursuing a degree in History at the same institution. Outside his studies, he is active in literary discussions at Bukik Ase, Padang, and in 2024 co-founded the literary community Kutub Sastra. His novel Leiden 2020–1920 won second place in the Jakarta Arts Council Novel Competition in 2023.
Hasbunallah Haris adalah penulis dan peneliti sastra asal Indonesia. Ketertarikannya pada sejarah berawal dari studi filologi di Sungai Pagu, yang kemudian ia kembangkan menjadi sebuah novel fiksi sejarah. Dengan memadukan riset dan cerita, ia berupaya melestarikan naskah-naskah kuno yang kerap terkubur atau dianggap sakral oleh masyarakat setempat, sambil menekankan pentingnya pelestarian budaya untuk masa depan. Ia meraih gelar Sarjana Sastra Arab dari Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang dan saat ini tengah menempuh studi di bidang Sejarah di universitas yang sama. Di luar aktivitas akademis, ia aktif dalam diskusi sastra di Bukik Ase, Padang, dan pada 2024 turut mendirikan komunitas Kutub Sastra. Novelnya, Leiden 2020–1920, meraih juara kedua dalam Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2023.